KEHIDUPAN SRI
Sri anak kedua dari 3 bersaudara ini
tinggal dengan kedua saudaranya.Ayah dan ibunya telah meninggalkannya sewaktu
ia masih berumur 3 tahun.Kakaknya Supri adalah oprang yang menghidupinya
setelah kepergian orang tuannya.Bersama adiknya Ruli yang selalu menemaninya.
Suatu hari Sri dan adiknya pergi ke
supermarket terkenal di kotanya.Dengan tujuan ia akan membeli alat alat tulis
untuk ujian.Namun, adiknya yang masih berusia 6 tahun tak menghiraukan apa yang
di lakukan kakaknya.Ia merengek rengek meminta eskrim.” Mbak,aku minta es krim
yang itu ya.”. Sri membalas, “dik mbak lagi nggak bawa uang pas nanti ya kita
pulang dulu, trus belinya di toko Kang Udin.” Dengan perasaan terluka,adiknya lepas
dari gandengan Sri dan ia lari menuju ke jalan raya. Namun,naas apa yang
terjadi padanya ia terserempet oleh sepeda motor yang melaju dengan kencangnya.
Sri yang melihat kejadian itu terus berteriak “ Awas Rull.” Namun semua itu
terlambat. Daer adinya terlempar sejauh 3 meter.Sri yang bingung lalu menelpon
kakaknya Supri. “Bang-bang Ruli bang.” Kakaknya yang binggung menjawab,”kenapa
ama Ruli,Neng”. Sri manjwab, “sini aja bang ke klinik deket AlpaMert depan
gang,ya ya.” Dengan persaan bimbang abangnya pergi ke rumah sakit.
Di rumah klinik,Rulli langsung
mendapatkan pertolongan. Kepalana yang berdarah nampak serius langsung
mendapatkan pertolongan dokter.Sri yang merasa kebingungan sanagt merasa
bersalah.”Mengapa kau tidak bisa menjaganya, dasar aku bodoh.” Ucapnya dalam
hati. Melihat dokter keluar dari ruangan Sri langsung menyergapnya.” Dok-dok
bagaimana Keadaan adik saya dok ?”.”Tidak apa pa dek,adekmu hanya mengalami
masalah kecil. Untung Kepalanya hanya terbentur oleh setaang saja. Hanya
kakinya sedikit kesleo.”,jawab dokter.
Supri pun tiba di klinik.Ia mencari
adik adiknya.Sesampainya di depan Sri ia langsung memarahinya.”Kamu ini
bagaimana,sudah kaka bilang jaga adikmu baik baik.Tapi kamu malah menyelakannya. Bagaimana keadaan adikmu
sekarang ?”. “Ruli cuma kebentur kepalanya Bang.Sama lecet lecet
sedikit.Kakinya juga kesleo.”,jawab Sri dengan ketakutan.”Apa kayak gitu kamu
anggap gak apa apa?”,jawab Supri. “Cplak”, supri yang marah langsung menampar
Sri. Ia pun membayar biaya pengobatan dan mengajak pulang kedua adiknya.
Sesampainya dirumah Sri langsung lari
menuju ke kamarnya.Supri yang mellihatkejadian itu hanya diam saja dengan
menggandeng Ruli.” Dek,gimana masih sakit?”.”Sedikit Bang,Ruli kan Anak
kuat.”,jawab Ruli. “Yaudah,sana mandi langsung ajak mbak makan ya.”,sahut
supri.”Iya bang”,jawab Ruli.
Sesudahnya makan malam Sri yang masih
marah kepada abangnya langsung menuju ke kamarnya.tanpa berkakata apa apa ia
nyelonong begitu saja.Abang dan adiknya yang melihatkan hanya melihatnya tanpa
melakukan tindakan apapun.Supri langsung mengajak adeknya belajar bersama.Seusainya
belajar mereka menuju ke kamar untuk tidur.
Sri yang pergi ke kamar lebih dahulu
belum bisa tidur juga.Jam dinding sudah berdentang dua kali. Setengah malam
telah terlewati. Sri masih duduk tepekur di sudut kamar. Matanya sembab. Ia
belum berhasil memejamkan mata. Ia beringsut ke depan cermin yang menempel di
dinding kamar. Pipinya yang lebam masih terlihat jelas.Itu disebabkan oleh
perlakuan kakaknya Supri.Hal itu dilakukannya agar membuat Sri jera dengan
perbuatannya.Perbuatan yang ia lakukan pada siang itu.Ia termenung di pojokan
dengan merenunggkan apa perkataan ibunya sebelum meninggalkannya, “Sri,jadilah
anak yang membanggakan,jangan sekalipun menyusahkan kakamu,kasian dia telah
berkerja semaksimal mungkin untuk menghidupi kau dan adikmu”.Sri pun menangis
dan beranjak tidur lagi dengan harapan esok kan lebih indah.